Mengobati Penyakit Marah



Cara mengobati penyakit marah.

Dalam Kitab Sirus As-Salikin dijelaskan bahwa ada sepuluh kemuzaratan/bahaya yang di akibatkan dari makan berlebihan. Salah satu akibatnya adalah menimbulkan segala macam penyakit baik penyakit zahir badan maupun penyakit hati. Salah satu penyakit hati adalah marah, penyakit Marah itu bersumber dari takabbur (sombong), dari sifat Takabbur menimbuklan penyakit Ghazab (marah), dari sifat Ghazab mengakibatkan penyakit Haqad (dendam/memendam marah dihati), dari sifat Haqad mengakibatkan penyakit Hasad (dengki).

Dalam kitab Sirajut At-Thalibin dijelaskan bahwa untuk mengobati penyakit Ghazab ini adalah dengan ilmu dan amal, dengan mengetahui seluk beluk penyakit ini dan dengan mengamalkan pengetahuan tersebut dan juga ada beberapa amalan baik perkataan maupun perbuatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkannya.

Ilmu pengetahuan yang bisa menjadi obat untuk menghilangkan penyakit marah ada enam perkara :

Pertama: Merenungkan riwayat-riwayat mengenai keutamaan menahan amarah, memaafkan, bersabar, dan menahan diri. Di antaranya adalah hadits di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

من کف غضبه کف الله عنه عذابه

ﻭﻤﻥ ﺧﺫﻥ ﻟﺳﺎﻨﻪ ﺳﺗﺮ ﷲ ﻋﻭﺮﺘﻪ

 ﻭﻤﻥ ﺍﻋﺗﺫﺮ ﺍﻟﻰ ﺮﺒﻪ ﻗﺒﻞ ﷲ ﻋﺫﺮﻩ

 “Barangsiapa menahan amarahnya, Allah akan menahan azabnya. Barangsiapa meminta maaf kepada Tuhannya, Allah akan menerima permintaan maafnya. Barangsiapa menjaga lidahnya, Allah akan menutupi kesalahannya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Dunya dalam kitabnya tentang kecaman amarah, dari Anas. 

Dan ada riwayat-riwayat serupa lainnya. Yang mana setelah merenungkan hal-hal ini, seseorang akan menginginkan pahala menahan amarah, dan keinginan yang kuat ini akan mencegah seseorang dari mencari pembalasan atau membalasan dendam, dan amarah akan padam.

Kedua: Menakut-nakuti dirinya sendiri dengan hukuman Allah, dengan mengatakan: Kekuasaan Allah atas diriku lebih besar daripada kekuasaanku atas orang ini. Jika aku melampiaskan amarahku kepadanya, aku tidak dapat yakin bahwa Allah tidak akan melampiaskan amarah-Nya kepadaku pada Hari Kiamat ketika aku sangat membutuhkan pengampunan. Karena Allah Yang Maha Kuasa berfirman dalam beberapa kitab yang Dia turunkan kepada para rasul-Nya: 

ﻴﺎ ﺇﺑﻥ ﺃﺩﻢ ﺃﺫﻛﺮﻧﻰ ﺤﻳﻥ ﺘﻐضب ﺃﺫﻛﺮﻙ ﺤﻳﻥ ﺃﻏضب ﻓﻼ ﺃﻣﺤﻗﻙ ﻓﻳﻣﻦ ﺃﻣﺤﻕ

“Wahai anak Adam, ingatlah Aku ketika kamu marah, dan Aku akan mengingatmu ketika Aku marah, agar Aku tidak membinasakanmu di antara orang-orang yang Aku binasakan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Shahin dalam “Al-Targhib.” Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengutus seorang hamba untuk suatu tugas, dan ia terlambat kembali. Ketika ia kembali, beliau berkata: “Sekiranya bukan karena pembalasan, niscaya aku akan menghukummu dengan berat,” yang dimaksud adalah pembalasan pada Hari Kiamat. Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari hadits Ummu Salamah.

Ketiga: Ia harus mewaspadai konsekuensi permusuhan dan pembalasan, serta kesiapan musuh untuk menghadapinya dan upaya-upaya mereka untuk menghancurkannya. Hilang tujuan dan kesenangannya atas kemalangan yang menimpanya, dan dia tidak akan terbebas dari kemalangan itu, sehingga dia menakut-nakuti dirinya sendiri dengan akibat kemarahan di dunia ini jika dia tidak takut akan akhirat. 

Pengetahuan tentang hal ini sangat penting, karena akibat permusuhan sangat mengerikan, dan siapa pun yang memiliki musuh yang bertekad untuk mencelakainya tidak akan menemukan kedamaian dalam hidupnya sama sekali. Jadi, jika dia melindungi dirinya dari kemarahan, dia akan terhindar dari kesulitan ini.

Keempat: Merenungkan keburukan penampilannya sendiri saat marah, dengan mengingat penampilan orang lain saat sedang marah. Ia menyerupai sebagai anjing ganas dan singa buas, dan ia juga menyerupai orang yang sabar dan tenang yang meninggalkan amarah sebagai seorang Nabi, Auliya, Ulama, dan orang-orang bijak. Ia memberikan pilihan kepada dirinya antara menyerupai anjing, singa, dan orang-orang terendah, atau menyerupai para Nabi dan Ulama dalam kebiasaan mereka, sehingga jiwanya dapat condong untuk mencintai dan meniru mereka jika ia masih memiliki secercah akal sehat yang tersisa.

Kelima: Ia harus merenungkan alasan yang mendorongnya untuk marah dan membalas dendam. Pasti ada alasannya, seperti bisikan setan dengan katanya: Ini akan membuatmu lemah, orang-orang akan meremehkanmu, kamu akan dipermalukan dan dihina, dan kamu akan menjadi hina di mata manusia. Maka ia berkata pada dirinya sendiri: Apa yang membuatmu hebat/sombong sehingga kamu enggan menanggungnya sekarang, tetapi kamu tidak enggan menanggung rasa malu dan kehinaan di Hari Kiamat. Kamu takut menjadi kecil di mata manusia, tetapi kamu tidak takut menjadi kecil di mata Allah Swt, para Malaikat, dan para Nabi.

Keenam: Ia harus tahu bahwa kemarahannya berasal dari kesombongannya dan ta’ajubnya bahwa segala sesuatu terjadi sesuai kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Bagaimana mungkin ia berkata, "Kehendakku lebih utama daripada kehendak Allah," padahal murka Allah kepadanya lebih besar daripada murkanya sendiri.  

Adapun amalan tindakan yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit marah ini yaitu:

- Dengan mengucapkan Ta’awuz: 

ﺃﻋﻭﺯ ﺑﻟﻟﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺷﻳﻄﺎﻦ ﺍﻟﺭﺟﻳﻡ

"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk." 

Inilah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk diucapkan ketika seseorang marah. 

- Dengan mencubit hidung dan berdo'a.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa memegang hidung Aisyah ketika ia marah dan berkata, "Wahai Aisyah, ucapkanlah: 

ﺍﻟﻟﻬﻡ ﺭﺐ ﺍﻟﻧﺑﻰ ﷴ ﺇﻏﻓﺭﻟﻰ ﺫﻧﺑﻰ ﻣﻦ ﻣﺿﻼﺖ ﺍﻟﻓﺗﻦ

'Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad Saw, ampunilah dosa-dosaku dari cobaan kesesatan.'" Dianjurkan/disunatkan untuk melakukan dan mengucapkan doa ini. 

- Apabila marah itu tidak berhenti, maka duduklah jika Anda sedang berdiri, dan berbaringlah jika Anda sedang duduk, dan mendekatlah kepada bumi tempat Anda diciptakan, agar Anda bisa tawazhu’ menyadari kerendahan hati Anda sendiri. Carilah ketenangan dengan duduk dan berbaring, karena penyebab amarah adalah panas, dan penyebab panas adalah gerakan. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

“Amarah adalah bara api yang membara di dalam hati. Tidakkah kalian melihat pembuluh darahnya membengkak dan matanya memerah disaat seorang dari kalian sedang marah?, maka jika ia sedang berdiri, duduklah, dan jika ia sedang duduk, berbaringlah. 

- Jika tidak berhenti, maka berwudhuklah dengan air dingin atau mandilah, karena tidak ada yang dapat memadamkan api kecuali air.” 

Beliau bersabda yang artinya: “Jika salah seorang dari kalian marah, berwudhuklah dengan air, karena amarah berasal dari api.” Dan dalam riwayat lain: “Amarah berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api hanya dapat dipadamkan oleh air.”

Inilah kiat kiat yang bisa di lakukan/terapkan untuk mengobati penyakit marah.

Insya-a Allah dengan niat yang ikhlas, memohon ma’unah dari Allah Swt serta diiringi oleh tekat usaha yang kuat penyakit ini bisa disembuhkan dan dihilangkan dari dalam hati kita.

Tgk Firman Syukria - nuqila min Kitab Siraju At-Thalibin dan Siru As-Salikin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUASA RAMADHAN

SHALAT TASBIH