MIMBAR MESJID
Dari masa ke masa, arsitektur masjid selalu berubah, mulai dari yang sangat sederhana di zaman Nabi Muhammad saw (Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan, dindingnya terbuat dari pohon kurma sementara atapnya ditutupi oleh daun kurma) hingga ke berbagai masjid baru di dunia Islam dewasa ini yang dibangun dengan bahan yang lebih kuat dan fasilitas yang jauh lebih lengkap. Menara, kubah, mihrab dan kaligrafi di dinding masjid adalah beberapa elemen yang paling banyak diingat orang tatkala melihat masjid.
Ada satu elemen penting lain, yang tampak sederhana namun memiliki fungsi krusial, yakni mimbar. Mimbar adalah sebuah tempat atau ruang kecil yang disediakan di dekat mihrab, dan dipakai sebagai tempat khatib menyampaikan ceramah. Berbeda dengan shalat yang mengarah ke kiblat, mimbar mengarah ke jamaah, atau berlawanan dengan arah kiblat. Di balik mimbar terdapat sebuah kursi tempat duduk khatib. Di masjid-masjid di antero dunia Islam, mimbar hadir dalam corak yang beragam, mulai dari yang sangat biasa (panggung yang ditinggikan beberapa anak tangga) hingga ke yang sangat artistik (misalnya dibuat menyerupai sebuah rumah kecil, dengan tiang penyangga dan atap yang diberi dekorasi indah).
Penggunaan mimbar sebagai salah satu sarana yang membantu penyampaian ceramah telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad saw. Menurut para sejarawan, mimbar pertama telah hadir sekitar tahun 628-31 M. Bentuknya berupa sebuah kursi kayu yang untuk menaikinya terdapat dua anak tangga. Nabi Muhammad memesan kursi ini untuk ditempatkan di masjid Madinah. Dari mimbar inilah Nabi Muhammad menyampaikan khutbah-khutbahnya.
Sejarah mimbar memasuki babak baru di masa para khalifah, dengan menguatnya posisi khalifah dan jajarannya sebagai penguasa politik. Penghormatan diberikan kepada sang khalifah saat ia duduk di mimbar. Mimbar digunakan oleh para gubernur di masa ini untuk beraudiensi dengan warganya, menyampaikan pengumuman, serta tetap melanjutkan fungsi dasarnya sebagai tempat menyampaikan khutbah, khususnya khutbah Jum’at. Bentuk mimbar juga berubah, dari yang awalnya hanya memakai dua anak tangga, di zaman Mu’awiyah dari Dinasti Umayyah menjadi memakai enam anak tangga. Sejak era Umayyah inilah mimbar semakin dikenal dan lazim ditempatkan sebagai salah satu (di sejumlah masjid bahkan menjadi-satu-satunya) perabot di dalam masjid.
Dalam hal modernisasi mimbar ini ada sebagian mesjid yang tidak memindahkan mimbar lama karna ada satu dan lain hal, menurut hemat dan pengetahuan kami ini bukanlah sebuah hal yang perlu di permasalahkan apalagi diperbesarkan hingga bisa menggagu kenyamanan dan kerukunan masyarakat.
#Tgk Firman Syukria.



Komentar
Posting Komentar