Puasa Ikhlas, Hakiki dan Khawasul Khawas
PUASA IKHLAS HAKIKI DAN KHAWASUL KHAWAS
Di bulan suci Ramadhan semua orang Islam yang beriman melaksanakan
ibadah puasa, QS Al-Baqarah ayat 183 Allah Swt memanggil orang-orang Islam ayo
siapa yang ingin menjadi suci mari masuk dalam bulan suci Ramadhan dengan
menjalankan ibadah puasa.
Dalam pelaksanaan ibadah puasa manusia terbagi ke dalam tiga kelas
:
Pertama kelas ibtidaiyah atau biasa di sebut puasa orang awam,
yaitu orang yang berpuasa hanya menahan lapar dahaga dan yang membatalkan
puasa, puasa ini termasuk dalam tingkatan puasa ‘adiy.
Kedua kelas tsanawiyah atau puasa orang khawas, yaitu orang yang
berpuasa bukan sekedar menahan dari yang membatalkan puasa tapi juga menahan
diri dari yang membatalkan pahala puasa, puasa ini masuk dalam tingkatan
syar’iy.
Ketiga kelas aliyah atau puasa orang khawasul khawas, yaitu selain
menahan dari yang membatalkan puasa dan pahalanya ia juga menahan nafsunya dari
selain Allah Swt, puasa inilah yang hakikiy.
Bila ada yang menganggap “yang penting puasa nya sah udah cukup” ya
betul, tapi mau sampai kapan selalu begitu, bila masih anak-anak wajar
menganggap begitu, tapi bila kita sudak punya anak dua/tiga orang, kita sudah
bercucu apa masih mau berada di kelas ibtidaiyah?, maut bisa datang kapan saja,
ayoo berusaha untuk naik kelas.
Dalam Al-Quran Allah Swt menjelaskan tentang puasa tepatnya dalam
surat Al-Baqarah mulai ayat 183 sampai 187, kalau kita perhatikan dalam
penjelasan tersebut ada ayat mu’taradhah yang tentu mempunyai rahasia
hikmahnya.
Ayat 183 (yaa aiyuhallaziina aamanu … hingga akhir), tentang puasa
Ramadhan;
Ayat 184 (aiyaamam ma’duudaat … hingga akhir), tentang puasa
Ramadhan juga;
Ayat 185 (syahru ramadhaanallazi unzila fihil quran … hingga akhir),
juga tentang puasa Ramadhan;
Ayat 186 (wa izaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fainnii qariib … hingga
akhir), ini menjelaskan tentang do’a bukan tentang puasa Ramadhan;
Ayat 187 (uhilla lakum lailatash shiyaami … hingga alkhir), ayat
ini kembali membahas tentang puasa Ramadhan.
Di tengah penjelasan tentang puasa Ramadhan di selangi oleh ayat
yang menjelaskan tentang do’a yang artinya (dan apabila bertanya kepada Mu oleh
hamba Ku tentang Aku maka jawablah bahwa Aku sangat dekat, Aku terima do’anya
apabila ia berdo’a, maka terimalah titah Ku dan berimanlah dengan Aku, pastilah
kamu berbahagia);
Rahasia hikmahnya adalah, bulan suci Ramadhan itu merupakan waktu
mustajabah doa, sehingga perlu untuk lebih diperbanyak do’anya.
Bila puasa kita puasa yang ikhlas, puasa yang sebenarnya puasa
hakiki, maka di saat itu ruh kita bisa merasakan bahwa Allah Swt itu
benar-benar qariib sangat dekat (fa innii qariibun), di saat itulah bila kita
berdoa maka akan di istijabah (ujibu da’watadda’I iza da’a nii).
Di dalam berdo’a atau meminta, manusia terbagi kepada tiga
tingkatan :
Pertama tingkatan ‘adiy, kenapa kita meminta/berdoa (contoh meminta
rezeki) kepada Allah Swt, karena kita menginkan rezeki itu makanya kita berdoa.
Kedua tingkatan syar’iy, kenapa kita berdoa, karena kita
mengharapkan sesuatu di berikan oleh Allah Swt paling kurang mendapatkan
pahala, karena berdoa itu adalah bagian dari ibadah.
Ketiga tingkatan hakikiy, kita berdoa/meminta rezeki kepada Allah
Swt bukan karena kita menginginkan rezeki itu, bukan karena kita mengharapkan
pahala, tapi kita berdoa kepada Allah Swt hanya ingi menampakkan/membuktikan
kepadaNya bahwa kita sangat perlu dan selalu berhajat kepada Nya.
Bila di tingkatan pertama atau kedua maka kita akan berdoa kepada
Allah Swt hanya di saat kita membutuhkan atau mengharapkan sesuatu, tapi di
tingkatan ketiga kita akan selalu berdoa dan berharap kepada Allah Swt karena
kita tidak bisa apa-apa tanpa Nya, karena kita selalu berhajat dan perlu kepada
Nya.
Ayoo kita naik kelas !, ayoo kita naik tingkat !

Komentar
Posting Komentar