Mengorbankan Ikatan Dengan Makhluk Demi Merajut Mahabbah Dengan Khaliq

 


Mengorbankan ikatan dengan makhluk demi merajut mahabbah dengan Khaliq.

HR, At-Tarmizi :

ما عمل ابن أدم  يوم النحر من عمل  أحب الي الله تعالي من إراقة الدام

Amalan yang paling disukai Allah Swt pada hari Nahar adalah menumpahkan darah Qurban.

Dari sekian banyak amalan di hari raya Idul Adha, yang paling di sukai Allah Swt adalah berqurban. sehingga dari sekian banyaknya qurban ada qurban yang lebih afzal :

Mula-mula qurban yang lebih afzal adalah Unta, kemudian sapi/lembu, kemudian kerbau, kemudian kebiri/domba, kemudian yang terahkir kambing.

Lebih afzal satu orang berqurban dengan tujuh kebiri/kambing dari pada berqurban dengan satu unta/lembu/kerbau. dan lebih afzal satu orang berqurban dengan satu kebiri/kambing dari pada musyarakah/berkongsi pada satu unta/lembu/kerbau.

Hadist :

عظموا  ضحاياكم  فإنها يوم القيامة  مطاياكم

Besarkanlah atau muliakanlah qurbanmu, sesungguhnya ia di hari kiamat akan menjadi kenderaanmu.

Berqurban hukumnya sunat muakkad pada hak kita selaku umat, namun kalau dilihat dari efek yang di timbulkan bila tidak berqurban kesannya seolah-olah qurban itu wajib,

HR, Ahmad dan Ibnu Majah :

من وجد سعة  فلم يضحي  فلا يقربن  مصلانا

Siapa saja yang mempunyai kemampuan namun ia tidak berqurban maka janganlah ia mendekati tempat Shalat kami.

Dari hadist ini menimbulkan kesan seolah-olah qurban itu wajib padahal tidak. sama seperti hukum memandikan rambut perempuan yang rontok dalam masa ia masih berhaiz. dalam kitab Ihyak dan Ianah juzuk I hal 79 di jelaskan bahwa : “sepantasnya jangan di hilangkan bulu/rambut atau kuku dan sedemikian lagi darah dalam masa kotor berhadas besar karena setiap anggota badan yang terpisah dalam keadaan kotor/berhadas besar maka ia akan di kembalikan di hari kiamat dalam keadaan kotor pula”, dari sini kesannya seolah-olah itu wajib, padahal tidak.

Qurban bukan sekedar menyembelih hewan atau berkorban materi saja, namun Hakikat dari Qurban adalah mengorbankan ikatan dengan makhluk demi dan untuk merajut Qurbah dengan sang Khalik, berkorban perasaan cinta dan sayang kepada makhluk untuk meraih cintanya sang Khalik.

Dalam kisah berqurbannya Nabi Ibrahim As setidaknya ada empat tokoh utama yang berperan dalam Qurban hakiki ini :

Yang pertama Nabi Ibrahim As sebagai seorang anak dan ayah.

Sebagai seorang anak, Nabi Ibrahim As mengorbankan perasaannya terhadap bapaknya, ketika Ia protes terhadap perbuatan Bapaknya Azar yang membuat dan menyembah patung (QS Al-An’am, Ayat 74), sehingga ia rela untuk beraksi menghancurkan patung-patung tersebut dan unjungnya Beliau di marahi, di bakar dan terusir dari tempat kelahirannya.

Dalam kitab tafsir Shawi juzuk I hal 32 di jelaskan bahwa : Azar ini adalah paman Nya dan Bapak Nya adalah Tarikh, hal ini sebagai jawaban dan alasan supaya tidak bertentangan atas perkataan Ulama Muhaqiqun yang menyatakan bahwa nasab keturunan Nabi Saw mulai dari Abdullah sampai kepada Nabi Adam As semuanya terpelihara dari kemusyrikan menyembah selain Allah Swt.

Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim As Mengorbankan kasih sayang kepada anak Nya demi untuk menunaikan kewajiban kepada Allah Swt, di dasari oleh nazar mewajibkan sesuatu karna Allah Swt.

Bila kita bernazar untuk berqurban dengan satu binatang yang di tentukan pada waktu itu, contohnya “jika sembuh sakitku maka wajib atasku kambing ini aku qurban”, maka wajib untuk menyembelih kambing itu walaupun ia tidak memadai untuk qurban (karena kambing itu cedera atau cacat), dan bila kemudian kambing itu hilang tanpa di sengaja maka tidak wajib untuk menggantikannya.

Dan bila kita bernazar untuk berqurban dengan satu binatang yang tidak di tentukan pada waktu itu, contohnya “jika sembuh sakitku maka wajib atasku untuk qurban satu kambing”, maka wajib atasnya untuk menyembelih kambing yang memadai untuk qurban (kambing yang tidak cacat sesuat ketentuan qurban), dan jika di kemudian hari di tentukan kambingnya, seperti katanya “kambing ini untuk menunaikan nazarku”, kemudian kambing itu hilang maka wajib untuk mengantikannya.

Nabi Ibrahim As rela mengorbankan ikatan dengan bapak anak dan harta Nya untuk merajut qurbah dengan Allah Swt.

Sedangkan kita, kita rela mengorbankan sayang Nya Allah Swt demi anak dan harta. anak dan harta kita relakan menjadi korbannya, korban dari pergaulan, korban dari teknologi, ayah nya sendiri pun jadi korban.

Bila HP bisa melalaikan anak dari ibadah Shalat, sanggupkah kita menghancurkannya atau kita biarkan saja karena sayang kepada harta. bila anak tak tahu ilmu Agama, sanggupkah kita relakan ia tinggal di Dayah/Pesantren, atau kita biarkan ia dalam kebodohan karena sayang pada nya.

Bila rumah kita terbakar dan anak kita masih nyenyak tidur di dalam, tentu lazimnya orang tua akan berusaha untuk membangunkannya, menyelamatkannya, andaipun ia tidak mau bangun kita akan rela menariknya, menggendongnya demi untuk keselamatannya. bagaimana sikap kita untuk menyelamatkannya dari kebakaran api Neraka.

Yang kedua Nabi Ismail As sebagai seorang anak.

Nabi Ismail As mengorbankan perasaan cintanya terhadap kehidupan dunia demi taat dan patuh pada orang tuanya yang menjalankan perintah Allah Swt, Dia jadi Anak yang saleh demi mendapatkan kerizaan Allah Swt lewat kerizaan orang tua.

Nabi Ismail As menjadi anak yang saleh tidak sepenuhnya lewat pendidikan, karena kita ketahui bahwa usianya pada waktu itu masih kecil. Faktor utama dan yang mendasar nya adalah doa.

Ada tiga doa Nabi Ibrahim As untuk mendapatkan anak yang saleh :

Pertama QS As-Shaffat Ayat 100                                                                                                                                                                                                                                               ۝   رب هب لي من الصالحين

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang shaleh.

Kedua QS Ibrahim Ayat 35                                                                                                     ۝ رب اجعل هاذا البلد أمنا واجنبني وبني أن نعبد الاصنام

Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini yang aman dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala.

Ketiga QS Ibrahim Ayat 40                                   ۝   رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء

Ya Tuhanku, jadikanlah aku da anak cucuku orang yang mendirikan Shalat, ya Tuahn kami perkenankanlah doaku.

Yang ketiga Siti Hajar sebagai seorang Ibu dan istri.

Siti hajar mengorbankan sayangnya kepada sang anak untuk meraih sayang Allah dengan mengerjakan perintah Nya.

Peran seorang Istri dan ibu dari anak kita sangat penting dalam mewujudkan rumah tangga yang penuh cinta sayang di rizai Allah Swt dan sangat penting dalam mewujudkan anak yang saleh, karena orang tua itu ibarat pabrik padi, bila pabriknya baik akan menghasilkan beras yang berkualitas, namun bila pabriknya kurang baik maka hasil berasnya pula tak baik, bersekam, seorang ibu ibarat cetakan kue, bentuk kue yang dihasilkan tergantung bagaimana bentuk cetakannya, bila adonan kuenya di isi dalam cetakan berbentuk bunga, ya hasilnya bentuk bunga, bila di isi dalam cetakan berbentuk ikan, ya jadi ikan, bila dalam bentuk orang baik ya Alhamdulillah, bila dalam bentuk kambing, kerbau, anjing babi, ya na’uzubillah.

Di bali peran Siti Hajar sebagai seorang Ibu ada sosok yang sering terlupakan yaitu,

Yang keempat Siti Sarah sebagai seorang Istri yang shalehah.

Siti Sarah mengorbankan cinta dan sayangnya kepada suami yang menginginkan sibuah hati, rela suaminya menikah lagi bahkan menyerahkan sendiri calon istri yang kedua untuk suaminya demi untuk mendapatkan kerizaan Allah Swt lewat kerizaan Suami.

Keempat sosok ini perlu kita teladani dengan perannya masing-masing dalam berqurban ikatan dengan makhluk untuk meraih qurbah dengan Khalik.

Jagan sampai kita mencontoh sosok yang kelima yang sering menghalangi mereka untuk berqurban, jangankan untuk berqurban sendiri orang lain yang mau berqurban pun di halangi, dialah Iblis Syetan laknatullah.

Nah bila ada orang yang sepperti itu kitapu meniru cara dari empat tokoh tadi untung mengusirnya, lemparkan batu dengan tangan, lontarkan batu dengan lisan, atau luapkan batu dengan perasaan sesuai dengan Sabda Nabi Saw

من رءي منكم منكرا فليغيره بيده , فإن لم يستطع فبلسانه , فإن لم يستطع فبقلبه , ذلك أضعف الإيمان

Barang siapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah mencegahnya dengan tangannya, dan jika tak sanggup maka dengan lisannya, dan jika tak sanggup juga maka dengan hatinya, dan inilah selemah-lemah Iman.

Dengan momentum ini, mari kita berusaha untuk mengukuti, mencontoh dan meneladani empat tokoh utama ini dalam mengorbankan perasaan sayangnya terhadap makhluk untuk meraih sayangnya Allah Swt, Qurban ikatan dengan makhluk demi dan untuk Qurbah dengan sang Khalik.

 Tgk Firman Syukria

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUASA RAMADHAN

Mengobati Penyakit Marah

SHALAT TASBIH