Kenapa Hati Sering Dengki
Kenapa Hati Sering Dengki/Hasud
Hakikat dari Dengki adalah membenci/tidak suka nikmat Allah Swt di
berikan kepada orang lain yang sesama Islam, dan ia menginginkan agar nikmat
itu hilang dari orang tersebut.
Dengki ini sudah menjurus ke perbuatan, sedangkan iri masih dalam
tahapan perasaan.
Jika ia tidak benci nikmat itu di berikan kepadanya dan ia tidak
menginginkan nikmat itu hilang dari nya namun ia menginginkan agar nikmat
seperti itu juga di berikan kepadanya, maka yang ini di namakan Ghibthah,
seperti sabda Nabi Saw اَلْمُؤْمِنُ يَغْبِطُ وَالْمُنَافِقُ يَحْسُدُ yang maksudnya orang mukmin itu ghibthah ia dan orang munafik itu hasud ia.
Dengki itu hukumnya haram sedangkan Ghibthah
itu di bolehkan.
اَلْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا يَأْكُلُ
النَّارُ الْحَطَبَ
dengki itu memakan akan amalan kebaikan sama seperti api
memakan kayu bakar.
Adapun Dengki kepada orang zalim supaya hilang
kezalimannya maka itu tidak di haramkan, dan juga tiada haram dengki kepada
orang kafir supaya ia masuk Islam.
Dengki itu terjadi karena beberapa sebab :
1. Karena ‘adawah / bermusuhan, karena ia
memusuhinya sehingga ia jadi dengki kepadanya, di saat lawannya mendapatkan
sesuatu nikmat maka ia benci dan berharap nikmat itu hilang darinya.
2. Karena ta’azzuz / menginginkan suatu
kemuliaan/jabatan seperti ia ingin menjadi kepala dusun atau muallim, di saat
ada orang lain yang mendapatkan kemuliaan dan jabatan itu maka ia benci dan
berharap kemuliaan dan jabatan itu hilang darinya.
3. Karena takabbur / sombong/membesarkan diri dan
menganggap hina orang lain, di saat ada orang lain yang mendapatkan nikmat
Allah Swt maka ia pun dengki dan berharap nikmat itu hilang darinya.
4. Karena ta’ajub / heran pada dirinya, kenapa
orang lain mendapatkan nikmat itu padahal orang lain itu sama seperti dirinya
bahkan dari satu segi malah lebih dirinya dari orang lain namun kenapa bukan
dia yang mendapatkan nikmat itu, maka di saat itu ia benci dan menginginkan
nikmat itu hilang dari orang tersebut إِذْ قَالُوا مَا اَنْتُمْ اِلّاَ بَشَرٌ مِثْلُنَا tidak adalah engkau itu melainkan hanya
manusia sama seperti kami.
5. Karena khauf min fawatil maqasid / takut
hilang atau luput dari sesuatu yang di maksudnya, ini tertentu pada dua orang
yang berbuat sesuatu dengan maksud dan tujuan yang sama, seperti dua saudara
yang bermaksud sesuatu dari orang tuanya, dan seperti dua istri yang bermaksud
sesuatu dari suaminya, dan antara murid yang bermaksud sesuatu dari gurunya,
dan seperti dua orang yang bermaksud sesuatu dari seorang bupati misalnya, dan
seperti dua orang yang mengajar dalam satu daerah yang bermaksud
kemegahan/kemuliaan dari masyarakat daerah itu, di saat orang lain yang
mendapatkannya maka ia benci dan berharap apa yang di dapatnya itu hilang dari
nya.
6. Karena hubbu riyasah wa thalbu al-jah /
menginginkan ia yang di atas dan mencari kemegahan, seperti orang yang belajar
suatu ilmu supaya ia jadi yang di atas dan yang megah, disaat ada orang lain
yang mendapatkan kemegahan dan ilmu itu maka ia jadi benci dan menginginkan
agar itu hilang dari orang tersebut.
7. Karena khabtsu nafsi / jahat nafsu dan kikir
dirinya, di saat ia melihat atau mengetahui orang lain mendapatkan sesuatu
nikmat maka ia sangat dengki kepadanya karena ia kikir tidak mau berbagi
sehingga ia berharap nikmat itu hilang dari orang tersebut.
Sekalian ini merupakan sifat tercela dan
hukumnya haram.
Tgk Firman Syukria (nuqila min kitab Siru As-Salikin juzuk III Hal 104)

Komentar
Posting Komentar