Tiga Langkah Strategis Mengkombinasikan Spirit Merayakan Maulis Nabi Muhammad Saw dengan Spirit Menjalankan Syariat Nya
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ذٰلِكَ بِاَ نَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اتَّبَعُوا الْبَا طِلَ وَاَ نَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَذٰلِكَ يَضْرِبُ اللّٰهُ لِلنَّا سِ اَمْثَا لَهُمْ
"Yang demikian itu, karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil (sesat), dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia."
(QS. Muhammad 47: Ayat 3)
Orang orang yg kufur dan menghalangi manusia untuk taat, Allah akan menghapus amalan mereka, menghapus pahala amalannya.
Sedangkan orang yang yang beriman dan beramal salih, Allah akan menghapus kesalahan mereka, menghapus dosa dari kesalahan mereka.
Kenapa demikian ?
Karena orang yang kufur mengikuti setan, mengikuti yang batil.
Sedangkan orang yang beriman mengikuti yang haq, mengikuti syariat dan sunnah Nya.
Fenomena msyarakat saat ini.
Banyak masyarakat Dalam memeriahkan/ merayakan maulid Nabi Muhammad Saw Ma sya-a Allah luar biasa.
Waktu, ruang, biaya dan tenaga siap tersedia.
Tapi tak sedikit pula masyarakat yang semangat nya tidak selaras /tidak seimbang dengan semangat menjalankan syariat Nya.
Setidaknya ada tiga langkah strategis yg bisa kita tempuh untuk mengkonbinasikan spirit merayakan maulid dengan spirit menjalankan syariat :
Langkah pertama : بإکراه النفس
Dengan memaksa diri
Memulai dengan paksaan untuk menghasilkan kebiasaan.
Kenapa belum ibadah ini/itu “tidak biasa melakukannya”.
Lah kapan terbiasa kalau belum memulainya, kapan memulainya kalau tak dipaksa dulu.
Langkah kedua : لیس بالإسرع
Jangan buru buru/ jangan cepat cepat. Santai aja sambil menikmati.
Kenapa orang mau melakukan dosa maksiat?, Karena sudah merasakan nikmat/nyaman pada maksiat itu.
Kenapa tak mau beribadah?, karena belum merasakan nikmatnya pada ibadah itu.
Untuk merasakannya antara lain adalah dengan cara tidak terburu buru dalam melakukannya.
Makan kari kambing enak, pergi liburan/tamasya enak, hisap rokok enak, tapi bila dilakukan dengan terburu buru maka kenikmatan itu takkan terasa. “mangat na meurasa tan”.
Ibadah Shalat jika dilakukan dengan cepat cepat maka yang di rasakan adalah capeknya/penatnya bukan nikmatnya.
Langkah ke tiga : إنتهاء الی الثمرات
Sampai kepada buahnya.
Beribadah tidak hanya sampai di rantingnya, di dahannya apalagi Cuma sampai dibatangnya, tapi beribadahlah hingga sampai ke buah buah manisnya, karena disitulah letak nikmat menjalankan syariatnya.
Menaiki batang jambu karena ingin merasakan nikmatnya buah jambu, naik kebatangnya capek, sampai dahannya digigit semut, tapi tak berhenti disitu karena ingin merasakan nikmatnya buah jambu.
Letak manisnya buah syariat itu adalah pada adab adabnya, pada akhlaknya, pada sunat sunatnya.
Melaksanakan syariat (Shalat misalnya) hanya melakukan yang wajibnya/rukunnya saja, berarti hanya sampai dahannya belum sampai pada buahnya. Padahal pada adab akhlak yang sunat sunat itulah letah buah buah manisnya menjalankan syariat.
Dengan memaksa diri untuk memulai menjalankan Syariat, terbiasa melakukannya, dijalankan dengan tidak terburu buru tapi pelan pelan sambil dinikmati, dan dilakukan sampai kebuah buah nya, in sya-a Allah spirit merayakanMaulid akan berpadu dengan semangat benjalankan Syariat.
Al-Faqir Tgk Firman Syukria.

Komentar
Posting Komentar