Miskin sekarang bukan karna kurang Pendapatan tapi karna salah Pengeluaran


Miskin Sekarang bukan karena kurang Pendapatan tapi karena salah Pengeluaran.


Kenapa pendapatan 10 Juta Bisa Habis, dan yang pemasukan 2 Juta Bisa Cukup? 

Belajar dari Dompet Qabil dan Habil.

Coba jujur!

Dulu kita pikir kalau pendapatan naik, hidup akan tenang.

Ternyata tidak. Dulu uang 1,5 juta sebulan ngeluh kurang. Sekarang dapat 3 juta, 5 juta, bahkan 7 juta tetap saja ngerasa kurang. 

Yang berubah cuma gaya belanjanya, bukan isi dompetnya.

Kita tidak miskin karena Allah Swt sempitkan rezeki. Kita miskin karena kita salah dalam mengelola rezeki.

Untuk menjelaskan ini, tidak perlu kita pakai teori modern ala Robert Kiyosaki atau Warren Buffett tentang bagaimana untuk bisa menjadi orang kaya dan sukses. Tapi kita pakai teori sederhana saja ala dua anak Nabi Adam As Qabil dan Habil tentang bagaimana untuk bisa cukup dan berkah.

Kenapa Qabil dan Habil?

Karena keduanya diberi modal yang sama oleh Allah Swt: tanah yang sama, kesempatan hidup yang sama. Tapi cara mereka mengelola pemberian itu beda total, dan hasilnya beda di dunia dan di akhirat.

Bagaimana manajemen keuangan ala Qabil :

1. Mendahulukan untuk memenuhi segala keinginan padahal tidak terlalu membutuhkan.

2. Invertasi untuk hari esok didunia yang belum pasti.

3. Mengesampingkan hak orang lain.

4. Sisanya untuk hak Allah Swt.

Asal Ada, Asal Kelihatan, Asal Senang Sekarang.

Qabil itu petani. Ketika disuruh berkurban, ia pilih hasil panen yang paling buruk, yang sudah busuk, yang tidak ia sukai. 

Ini cerminan manajemen keuangan yang salah:

- Boros untuk gengsi, pelit untuk yang penting. Beli iPhone cicilan 36 bulan demi dilihat keren, tapi untuk sedekah, untuk orang tua, untuk investasi akhirat pelitnya minta ampun.

- Hidup untuk pamer, bukan untuk butuh. Beli bukan karena perlu, tapi karena teman punya, karena TikTok bilang bagus.

- Nunda yang wajib, dahulukan yang nafsu. Gaji belum masuk, keranjang Shopee sudah penuh.

Inilah kenapa banyak dari kita gaji besar tapi tetap merasa miskin. Karena pakai manajemen Qabil.

Bagaimana manajemen keuangan  ala Habil :

1. Tashfiyah (filter / penyaringan).

Bukan semuanya dijadikan pemasukan tapi melalui proses penyaringan, filter gerbang utama adalah wara’ dari yang haram, filter gerbang selanjutnya wara’ dari yang halal.

2. Mengutamakan Hak kewajiban, baik terhadap Allah Swt (Zakat) maupun terhadap manusia (Hutang).

3. Mengikhtiyarkan investasi esok di akhirat (Sedekah).

4. Menyisakan untuk memenuhi kebutuhan bukan memenuhi keinginan.

Terbaik, Terencana, dan Untuk Allah Swt.

Habil itu peternak. Ketika berkurban, ia pilih kambing terbaik, paling gemuk, paling ia sayangi.

Ini manajemen keuangan yang benar:

- Dahulukan yang terbaik untuk Allah Swt dulu. Begitu ada pemasukan, zakat, sedekah, untuk orang tua, untuk akhirat diamankan di depan. Bukan sisa.

- Belanja pakai skala prioritas, bukan skala nafsu. Ia tahu bedanya butuh dan ingin.

- Apa yang dikeluarkan harus bernilai. Kambing terbaik itu investasi. Bukan habis sia-sia.


Rezeki yang dikelola dengan hati Habil akan berkah dan cukup. Rezeki yang dikelola dengan hati Qabil sebanyak apapun akan terasa kurang dan berakhir dengan hasad serta penyesalan, seperti Qabil yang akhirnya membunuh saudaranya sendiri.

Maka urgensinya bukan bagaimana cara menambah pendapatan, tapi bagaimana cara mengelola pendapatan.

Bagaimana ciri-ciri keuangan ala Qabil yang diam-diam membuat kita miskin?

Dan bagaimana cara hijrah ke keuangan ala Habil yang membuat rezeki sedikit terasa banyak dan berkah?

Tgk Firman Syukria


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PUASA RAMADHAN

Mengobati Penyakit Marah

SHALAT TASBIH